Senin, 09 Januari 2017

Perkebunan Karet Indonesia

Kondisi Perkebunan Karet ???

Pada tahun 2015 ini total luas perkebunan karet Indonesia telah meningkat secara stabil selama satu dekade terakhir. luas perkebunan karet mencapai 3,65 juta hektar. karena prospek industri karet positif, telah ada peralihan dari perkebunan-perkebunan komoditi seperti kakao, kopi, dan teh menjadi perkebunan-perkebunan kelapa sawit dan karet. Jumlah perkebunan karet rakyat meningkat, sementara perkebunan pemerintah dan perkebunan swasta telah mengalami penurunan, Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena beralih ke perkebunan kelapa sawit

Sekitar 80% agribisnis karet dikelola oleh rakyat dan sisanya dikelola oleh PTP dan perkebunan swasta. pertumbuhan karet rakyat masih positif yaitu 1,58%/tahun, sedangkan areal PTP dan Swasta sama-sama menurun 0,15%/tahun. oleh karena itu, tumpuan pengembangan karet akan lebih banyak pada perkebunan rakyat. permasalahannya saat ini, areal kebun rakyat banyak yang sudah tua, rusak dan tidak produktif (sekitar 400ribu ha) yang memerlukan peremajaan. Kendalanya adalah bahwa belum ada sumber dana yang tersedia untuk peremajaan ini.

Permasalahan perkebunan karet Indonesia

1)Produktifitas

Jika dibandingkan dengan negara-negara kompetitor penghasil karet yang lain, indonesia memiliki produktifitas per hektar yang dapat dikatakan rendah. hal ini ikut disebabkan oleh fakta usia pohon-pohon karet di Indonesia umumnya sudah tua dikombinasikan dengan kemampuan investasi yang rendah dari petani kecil sehingga mengurangi hasil panen

2)Pemanfaatan
Industri hilir karet Indonesia masih belum banyak dikembangkan. Saat ini, negara ini tergantung pada impor produk-produk karet olahan karena  kurangnya fasilitas pengolahan domestik dan kurangnya industri manufaktur yang berkembang baik. rendahnya konsumsi karet domestik menjadi penyebab mengapa indonesia mengekspor sekitar 85% dari hasil produksi karetnya. akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini cenderung ada perubahan karena jumlah ekspor sedikit akibat meningkatnya konsumsi domestik. sekitar setengah dari karet alam diserap secara domestik digunakan oleh industri manufaktur ban, diikuti oleh sarung tangan karet, benang karet, ban vulkanisir dan alat-alat lain


Kebijakan Pengembangan.

A)Tingkat On Farm

  1. Penggunaaan klon unggul dengan produktivitas(3000kg/ha/th)
  2. Percepatan peremajaan karet tua luas 400 ribu ha s.d 2009 dan 1,2 juta ha s.d 2025
  3. Diversifikasi usahatani karet dengan tanaman pangan sebagai tanaman sela
  4. Peningkatan efisiensi usaha tan
B) Tingkat Off Farm
  1. Peningkatan kualitas bokar berdasarkan SNI
  2. peningkatan efisiensi pemasaran untuk meningkatkan marjin harga petani
  3. penyediaan kredit UKM untuk peremajaan, pengolahan dan pemasaran bersama
  4. pengembangan infrastruktur
  5. peningkatan nilai tambah melalui pengembangan industri hilir